Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Saksi Yang Dihadirkan JPU Diduga Memberikan Keterangan Palsu di Persidangan

Pekanbaru  | Ansori dan kuasa hukum Ansori menyampaikan protesnya agar ketua majelis hakim ketua Daniel diganti untuk sidang selanjutnya.

Protesnya ini di ajukan kepada ketua pengadilan  negeri Pekanbaru dan di tembuskan kepada ketua pengadilan  tinggi Riau  bersamaan ketua mahkamah Agung Republik Indonesia, hukum melalui hak ingkar Pasal 48 Undang-Undang Kehakiman tahun 2009.

Pengajuan hak ingkar dilakukan karena hakim ketua dianggap bersikap provokatif dan intimidatif terhadap tersangka Ansori.

"Kami menyampaikan keberatan karena selama ini majelis hakim Daniel Ronald tidak  berlaku adil dan obyektif memihak kepada saksi korban. Selama sidang berjalan, terjadi beberapa keonaran karena sikap majelis hakim yang provokatif dalam menjalankan sidang," kata Ansoripada waktu sudah yang didampingi olehpenasehathukum nya,selasa ( 29/11/2022 ).

Selain itu, ketua majelis hakim Daniel Ronald juga mengintimidasi terdakwa berkali-kali dalam menyampaikan pendapat. Bahkan hakim cenderung membatasi terdakwa menyatakan pendapat, terutama mengenai kasus yang  di tuduh kan oleh jaksa penuntut umum  (JPU) kepada  dirinya, terdakwa merasa sangat dirugikan dalam  tuduhan  tersebut karena  menurut uu 1945 saudara  terdakwa Ansori merasa hak kemerdekaan nya sengaja  di rampas  oleh  orang lain yang tidak bertanggung jawab dan diduga beberapa  oknum telah bersekongkol dengan beberapa oknum  penegak hukum  yang  ada di Riau. baikpun itu dari tingkat  kepolisian sampai  kepihak Kejaksaan  bahkan sampai  kepersidanga yang  diduga  dilakukan  oleh majelis hakim  tidak bersikap  adil kepada diri nya  sendiri  jelas Ansori. Apalagi majelis hakim ketua  yang  dipimpin atau di ketua majelis hakim bersama  Daniel tersebut  sempat  mengatakan  memang nampak kali kalau logat suku orang  ......!!! nya itu sambil sambil  majelis hakim  Daniel ketawa  dengan saksi pelapor sambil menyebutkan  suku pelapor. Namu Ansori mengatakan kepada wartawan kita sembunyikan saja. karena  kita didalam pemberita wartawan atau jurnalis tidak boleh  menuliskan  nama suku ras dan agama atau nama anak di bawah umur jelas Ansori karena  tidak boleh kita tulis itu papar Ansori jadi kita tidak boleh menulis hal yang bertentangan dengan kode ektik jurnalis jelas Ansoriyang juga berperofesi sebagai wartawan yang berani taranfaran mengungkap kebenaran dan mengkritik para oknum yang nakal dari berbagai instansi selama ini di Indonesia.

Pada saat berjalannya persidangan kesaksian pihak pelapor Hondro pada hari selasa demgan nomor perkara. 1070 Pid .Sus /2022.PN Pbr., tanggal 29 november 2022 lebih kurang  sekitar  pukul.12;00 lewat terdakwa Hondro,dengan  sengaja mengacungkan tangannya mengagungkan siku tangan sebelah kanan dan sambil mempelototi terdakwa dengan menggunakan mata pelapor untuk menakut nakuti terdakwa. dan memengaruhi agar terdakwa takut dan tidak berani memprotes keterangan saksi dari pihak pelapor Hondro.,

kepada terdakwa pada saat itu berjalannya  persidangan  di ruang sidang  tepat di lantai ( dua 2 ), di pengadilan negeri Pekanbaru  namun  para majelis  hakim  hanya berdiam diri  saja tidak ada satupun  majelis hakim memberikan  teguran kepada saksi pelapor bernama  Hondro tersebut  ada apa...? Jelas terdakwa Ansori.

Tidak hanya itu menurut  Ansori  kedua saksi yang  telah di hadirkan  oleh jpu Edhi Junaidi Zarly.S.H.,tersebut  menurut  terdakwa Ansori  mereka telah menyampaikan kesaksian  bohong ,karena  kita masih ingat  dan punya  bukti  percakapan via whaatppnya secara tertulis  yang  pernah  di kirimkan oleh  para saksi pelapor dengan  pesan chat via whaatppnya pelapor  mengatakan kau punya apa punya rumah keredit.wartawan ngutip uang 20.000 ribu, taikucing kau , seperti sampah kau dimata saya kamu, isinya pesan singkat yang dikirimkan Hondro, mengirimkan pesan kepada Ansori dan sambil mengirimkan  ancaman anggatakan anggota ku lebih  banyak dari kamu, saya tidak mau mengotori tanganku jelas pelapor Hondro  lagi mengeluarkan ancaman kepada Ansori ku ambil kamu secara  hukum  saya sudah  koordinasi dengan  orang polresta Pekanbaru,  ucap Hondro  kepada Ansori saat ini yang tertuduh sebagai terdakwa pengancaman yang  dituduhkan oleh pelapor bernama Hondro.

Saksi pelapor mengirimkan pesan seperti  yang  di tirukan Ansori, kepada wartawan,  yang mana pesan singkat lewat via whaatppnya Hondro kepada Ansori pada tgl 31  januari  2021, saksi pelapor tersebut.

Jelas Ansori kembali  kepada wartawan. Rabu 30 november 2022 sekitar  pukul  12:00 wib. 

Maka dari itu saya sebagai orang yang di laporkan oleh Hondro merasa di rugi baik itu secara materil dan formil, baikpun itu secara materi akibat laporan atau tuduhan palsu itu.saya bernama Ansori meminta kepada bapak ketua pengadilan negeri Pekanbaru dan ketua majelis pengadilan tinggi Riau, sekaligus ketua majelis hakim mahkamah Agung untuk  menyikapi kasus  tuduhan kepada saya saat ini. 

Saya keluarga besar dari pihak terlapor yang  didampingi  oleh penasehat hukum inisial  AKF, saya,namun sayangnya penasehat hukum tidak ingin nama nya di libabatkan walau pun sudah menerima kuasa sebanyak dua kali dari saudara terdakwa Ansori tersebut.hal ini menjadi sangat aneh ada apa dengan  penasehat hukum jelas Ansori saya tidak mengerti  dengan keinginan penasehat  hukum  yang keberatan atas nama nya tidak ingin  disebutkan tersebut, nya terpaksa saya sebagai terdakwa sendiri meminta kepada, ketua mahkamah Agung (MA) Republik Indonesia atau instansi seperti ombudsman RI dan ke persidenaan republik Indonesia terkait atas ketidak adilan pokok perkara  ini kepada diri saya yang di lakukan oleh hakim ketua pimpinan sidang di pengadilan negeri Pekanbaru Riau tersebut agar mengevaluasi kenerja Hakim ketua pimpinan sidang pada hari selasa tanggal 29 november 2022 sekira pukul: 12:00 lebih kurang waktu indonesia bagian barat yang di lakukan nya kepada hak terdakwa tersebut tutup Ansori 

( ANS |  Tim Investigasi )

Posting Komentar untuk "Saksi Yang Dihadirkan JPU Diduga Memberikan Keterangan Palsu di Persidangan"